Pilih Format MP3 atau AAC ?

Semakin kecil perangkat musik makin kecil pula media penyimpanannya. Masalahnya jika mengkoleksi lagu-lagu dalam kualitas lossless akan memakan banyak ruang. Nah cara mengakalinya yaitu mengkompresnya dengan ukuran yang lebih kecil hingga menghemat 80% dengan sedikit mengorbankan kualitasnya. Sebenarnya banyak detail yang hilang tapi jika kita mendengarkannya melalui headset handphone itu tidak begitu ketara. Saya kali ini hanya membahas dua format musik yang sangat familiar, yaitu MP3 dan AAC. Setelah 15 tahun saya sering mendengarkan musik dalam format MP3 kini saya beralih ke format AAC.

Perlu diketahui sejak tahun 2008 digunakan Apple sebagai format standar untuk file musiknya. Dan akhir-akhir ini saya baru sadar kenapa Apple memutuskan memilih AAC daripada MP3. Jawabannya sederhana, dengan bitrate yang lebih kecil bisa setara dengan format MP3 dengan bitrate lebih besar di atasnya. Misal, bitrate 256 kbps AAC setara 320 kbps MP3. Alhasil ukuran filenya akan lebih kecil. Dengan kata lain lagu-lagu yang kita simpan ke perangkat musik akan lebih banyak lagi.

Jika kita amati seksama, suara yang dihasilkan format AAC lebih enak didengar. Distorsi berlebihan dieliminir. Detail suara-suara alat instrumen musiknya juga lebih bagus. Tak salah memang Apple memakai format ini. Melihat standar musik-musik iTunes terkini memakai settingan 256 Kbps, Constant Bitrate, Stereo. Coba konversi lagu-lagu kualitas lossless anda ke settingan itu menggunakan Foobar2000, aplikasi dekstop Windows yang mempunyai fitur praktis konversi lagu ke bentuk apapun.

File yang dikonversi ke AAC umumnya akan berekstensi M4A yang merupakan MPEG-4 diambil layer audionya saja. Format AAC ini juga sering digunakan dalam format audio film berformat MKV, yaitu film yang aslinya berkualitas BluRay kemudian di-rip menjadi ukuran yang lebih manusiawi kecil.

You may also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

two × 1 =