Thousand Cups from Jogja 2016

Sedikit mengingat beberapa bulan yang lalu tepat Hari Kopi Internasional yang jatuh pada tanggal 1 Oktober 2016. Hujan-hujan menyusuri jalanan ringroad timur dengan kecepatan sedang. Si kebo, sebutan motor kesayangan digeber dengan kecepatan 60 km/jam dengan kewaspaan penuh mengingat kondisi jalan licin. Sesampainya di depan J-Walk Sahid Mall saya bingung parkir dimana. Maklum baru pertama kali orang ndeso ini menginjakkan kaki disini. Oh, ternyata parkirannya ada di basement. Setelah parkir motor saya lihat di sekeliling kok sepi. Maksudnya mall segede ini pengunjungnya tidak seramai di mall-mall lain di Jogja. Parkir saja lenggang banget.

Naik ke lantai atas dengan menyusuri tangga yang lumayan membuat saya menggeh-menggeh. Belum tahu posisi lift ada dimana. Tibalah di lantai dasar yang sudah dipenuhi para peserta penggiat kopi di Jogja. Di acara ini pengunjung bebas mau minum kopi berapa saja. Saya waktu itu saja habis delapan gelas. Melebihi saran para pakar kesehatan yang memperbolehkan meminum kopi tak lebih dari dua gelas setiap hari.

Lokasi peserta dibagi dua bagian. Ada yang di sisi timur dan di sisi barat. Sisi timur adalah peserta yang menggelar pameran kopinya selama dua hari, yaitu tanggal 1 dan 2 Oktober. Sedangkan sisi barat adalah peserta yang menggelar pameran kopinya khusus tanggal 1 Oktober saja. Saya cuma datang dihari pertama saja sebagai pengunjung yang ingin menikmati kopi. Semakin sore semakin ramai pengunjung. Rata-rata pengunjung acara ini adalah langganan coffeeshop para peserta, pecinta kopi, dan orang yang diajak temannya untuk mengenal kopi. Lihat keseruan acara ini yang saya abadikan dalam foto di bawah ini:

Pengunjung merubungi mbak barista dari Pluviophile Coffee. Sedang didemokan menyeduh kopi dengan tehnik pour over menggunakan Kalita Drip.
Kenal dengan mas-mas di atas? Yak ini Yuliono komedian yang jago menyanyi dengan khas siulannya.
Tidak cukup bikin kopi saja tanpa bumbu-bumbu quote yang nyentrik.

Kebanyakan peserta menyuguhkan kopi hitam yang diseduh menggunakan V60. Memang tehnik ini paling populer dikalangan manual brew. Terlepas dari itu ada juga yang menggunakan tehnik tradisional, kopi saring yang banyak dijumpai di warung kopi luar jawa. Rasa kopinya pun beragam karena masing-masing peserta menyuguhkan kopi-kopi khas nusantara yang bermacam-macam jenisnya ditambah kelihaian para penyeduh yang beda tangan beda rasa. Kapan lagi ada acara ngopi gratis semacam ini? Tunggu saja 1 Oktober 2017, lebih seru tentunya dengan menghadirkan peserta dari coffeeshop di Jogja yang tumbuh secara signifikan dari tahun ke tahun.

You may also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fifteen + seven =